Realita
Cinta Geng Motor
Ulasan Film : The Tarik Jabrix
Karya : Feri Samsul Anam
Ulasan Film : The Tarik Jabrix
Karya : Feri Samsul Anam
Cacing. Siswa
SMA yg berniat bergabung dengan geng motor Road Devil. Layaknya ujian masuk SD,
SMP, SMA, atau universitas, untuk dapat diterima ke dalam geng, para calonnya
harus lulus 3 macam ujian dan harus mematuhi 3 peraturan yg intinya melanggar
aturan yg udah ada. Tak bisa melawan hati nuraninya untuk mematuhi yg benar,
Cacing tak lulus satu tes pun. Hal ini membuatnya ingin membentuk geng motor
sendiri yg tak melanggar peraturan yg berlaku.
Mengajak teman
sepermainannya, Cacing cs membentuk geng motor The Tarix Jabrix yg bermottokan
“safety first”. Aturan yg berlaku pun amat standar: menjunjung tinggi harga
diri, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, dan menghormati orang tua—contohnya:
mereka memberi jalan buat seorang nenek yg hendak menyeberang jalan.
Jadilah geng
motor The Tarix Jabrix yg berisikan anak-anak SMA culun, nekat, dan bermodal
seadanya. Ga punya moge? Motor butut pun jadi. Ga punya SIM? Ya bikin SIM. Ga
punya banyak pengikut? Berlima pun jadi! Alhasil, dalam masa perjuangannya, The
Tarix Jabrix beranggotakan Cacing, Mulder (anak orkay yg ga mengizinkannya naik
motor), Dadang (yg bapaknya ga mirip sama sekali sama dirinya dan menderita
penyakit bangun-tidur-lupa-kejadian-sebelum-tidur), serta si kembar tak identik
Ciko dan Coki yg rada autis dan hiperaktif.
Geng motor amat
sopan dan santun ini berhadapan dengan geng lain saat tak sengaja Cacing
menyemprotkan motor oli ke wajah pengikut The Smokers, geng motor nomor wahid
di Bandung. The Smokers juga dikenal suka bikin onar walaupun mereka mengklaim
mereka bersih dari narkoba. Masalah meruncing karena Cacing naksir Calista,
adik Max, pentolan The Smokers. Karena alasan sepele itu, The Smokers menyerang
The Tarix Jabrix. Pergelutan yg baru berlangsung beberapa detik dibubarkan
oleh datangnya polisi. Dadang yg bersembunyi di gang kecil memergoki salah satu
anggota The Smokers membuang bungkusan mencurigakan berisi bubuk putih yg
belakangan diketahui adalah heroin.
Tanpa alasan yg
jelas juga, The Tarix Jabrix ikut campur urusan anggota The Smokers pemakai dan
bertekad membongkar rahasia ini. Nambah lagi satu ‘kesalahan’ Cacing: nuduh The
Smokers adalah junkies. Nekat, mereka mendatangi markas The Smokers yg berakhir
dengan tertangkapnya Ciko. Mereka pun menyusun strategi untuk menyelamatkan
Ciko, membongkar pemakaian narkoba di dalam lingkaran The Smokers, dan
memenangkan hati Calista. Berhasilkan misi mereka?? Nonton donk!
Tapiii…harusnya bisa ketebak donk?? Hehe.
Kelar dengan ringkasannya, sekarang saatnya…kritikan!! Bukan berarti film
ini jelek loh, tapi ya pengen aja mengeluarkan unek-unek tentang film ini, biar
ga ngeganjel di hati ;p Pertama: akting. Oke. Untuk ukuran non-aktor, The
Changcuters pantas diacungi dua jempol karena akting mereka lebih natural dan
enak dilihat daripada aktor/aktris kebanyakan.
Kedua: Cacing.
Super jayus, norak, dan banyak lagaknya. Mau niru Jim Carrey? Oke aja sih asal
pada tempatnya aja. Awalnya lumayan lucu ngeliat tingkahnya yg nge‘sok’ dan
‘belagu’ banget,
Ketiga: Cacing.
Lagi? Ya. Tapi kali ini bukan soal karakternya, tp ucapannya. Mungkin buat
ngelucu, tapi bagiku kata-kata yg diucapkan Cacing cuma memperlihatkan
ke‘bodoh’annya
Keempat: SMA.
Apa ga ketuaan tuh tampang-tampang begitu masih dipasang sebagai anak SMA?
Kelima: Mayang.
Menurutku, tokoh Mayang ga punya kontribusi apa-apa ke jalan cerita selain
membantu memodif motor antik Dadang di akhir cerita. So, tokoh Mayang cukup ga
penting dan bisa dihilangkan tanpa mengurangi keutuhan cerita.
Keenam: ga
konsisten. Awalnya Calista bilang kalo dia ga ngerasa sebagai pacarnya Valdin,
tapi belakangan dia bilang Max yg menyuruhnya pacaran sama Valdin. Jadi
sebenernya Calista itu pacaran (karena terpaksa) sama Valdin atau engga sih?
Ketujuh: Saipul
Jamil. Lucu sih memang, tapi masa Hanung dibilang Saipul Jamil? Oke, mungkin
ada yg ga tau siapa itu Hanung Bramantyo dan siapa itu Saipul Jamil, so, it
doesn’t matter who the character in the film was. Tapi jangan jadi
pembodohan masyarakat donk…Hanung dibilang Saipul Jamil…ckckck… (btw, kalo
yg nonton ga tau siapa itu si “Saipul Jamil”, rasa-rasanya adegan ini ga
bakalan jadi lucu deh…so, sepertinya yg nonton diharapkan tahu kan??)
Kedelapan:
kegampangan. Seperti yg kubilang diawal, film ini menyuguhkan konflik dengan
penyelesaian yg nyeleneh atau gampang abis. Bisa dibilang ‘bodoh’ juga
sih. Contoh: dikejar-kejar para waria ternyata hanya mau disuruh menyanyi;
Dadang kehilangan cacatannya dan lupa cara memodif motor, tiba-tiba out of
nowhere Mayang comes to the rescue; mudahnya langsung dianggap ‘brothers’ sama
The Smokers; menangnya balapan antara Cacing dan Valdin karena Valdin
menghindari kucing atau apalah itu.
Kesembilan:
banyaknya adegan ga masuk akal atau ga penting. Contoh: Dadang kehilangan
catetannya, ya mbok nyatet di tempat lain. Emang ga modal beli buku sama
pulpen? Selain tokoh Mayang, obrolan makan pagi Calista-Max juga bisa didelete
tanpa mengurangi jalan cerita kecuali mengurangi durasi film =p
Setelah
sembilan ketidaksreganku sama film ini, boleh donk aku muji film ini? Pertama,
walau rasanya ga realistis, seneng aja ternyata masih ada geng motor yg amat
santun kayak The Tarix Jabrix, dan masih ada persahabatan seerat persahabatan
di antara personel The Tarix Jabrix.
Kedua, seneng
juga atas pemilihan pemeran utama untuk film ini. AKHIRNYA ada juga film yg
memasang tokoh utamanya ga ‘perfect’ alias cantik/ganteng banget, kaya, etc
etc. Bukannya The Changcuters ga ganteng loh (no offense!) but you get what i
mean, rite?
Ketiga, seneng
karena judul film ini merefleksikan jalan ceritanya. Ga seperti beberapa film
yg judul sama isinya ga ada kesinambungannya. Misalnya, From Bandung with
Love yg ceritanya lebih banyak seputar Dolphin atau BBB yg judul
film sama jalan cerita ga ada hubungannya sama sekali. The Tarix Jabrix memang
tentang geng motor bernama The Tarix Jabrix dan tentang segala macam
kejadian/masalah yg menyangkut geng motor: awal pembentukkan, visi misi, aturan
geng, usaha untuk eksis, sampai bentrok sama geng lain yg lumrah adanya.
Keempat, seneng
karena beberapa adegan SUKSES membuatku tersenyum simpul atau tertawa kecil. Contohnya,
hadirnya Candil Serieus atau saat Cacing menyanyi untuk Betty dkk:
Atau saat Max
mengejek menggunakan kata ‘anying’
Atau saat bokapnya Mulder komplain nyokapnya Mulder terlalu manjain Mulder: “Mama ngemanjain terus; mandi mandi suruh mandi. Papa tidak pernah disuruh mandi sumpahKocakabies
Atau saat bokapnya Mulder komplain nyokapnya Mulder terlalu manjain Mulder: “Mama ngemanjain terus; mandi mandi suruh mandi. Papa tidak pernah disuruh mandi sumpahKocakabies
Masih banyak
adegan yg ketebak, klise, dan malesin dan kalimat-kalimat jayus dan garink yg
bikin overall film ini ga cukup lucu untuk masuk kategori ‘komedi’. Mungkin
susah kali ya bikin film komedi yg ga nyerempet-nyerempet?
Akhirnya,
setelah nonton film ini, mungkin yg kita ingat adalah celetukan konyol tapi
cukup kocak “Waiting is a boring thing. Bikin kesel, bikin sinting. Ga
penting!”, “akhirnya dadang juga!”, “Yoi-yoy”, “Ya iyalah, masa ya iya dong”,
“waslap”, atau “todong long”… =p